istri yang setia

catatan : penulis tidak mengambil dari sebuah kisah nyata. melainkan dari oengalaman pribadi, beberapa rekan penulis, ditambahkan khayalan khayalan penulis, bila ada kesamaan dan atau kemiripan nama, tempar, kejadian, sepenuhnya bukan disengaja okeh penulis, tujuan dari cerita pendek ini murni untuk renungan, bila ada kekurangan silahkan hubungi penulis, trimakasih

Intro :
Namaku putra, berasal dari keluarga yang entah bahagia atau tidak, dari segi ekonomi, keluargaku tidak kekurangan, bahkan bisa dibilang berkelebihan, dari segi agama, aku juga tidak merasa kekurangan asupan religi dari keluargaku. Aku memiliki seorang adik laki laki, berbeda 3,5 tahun, tidak cukup jauh, ya selayaknya saudara laki laki, ada kalanya kami bertengkar dan tertawa bersama. Terdengar seperti keluarga yang norma, tapi tidak ada sesuatu yang berjalan sempurna

Aku menemukan sesuatu yg terus membuatku berfikir aku adalah aib. Terkadang hal ini memnjadikan relasiku dengan keluargaku sendiri memburuk. Tertekan dan berfikiran negative membuatku terjerumus pada dunia malam di kota luar biasa ini, dimasa umurku yang masih belasan, aku sudah turun kejalan, mengenal liarnya roda malam berputar rangka bermesin, iya, balap liar

Dunia mesin bukanlah hal asing bagiku, melihat ayahku yang memiki mobil tua bermesin 600 tenaga kuda membuatku semakin asik dengan roda 2ku, tapi permasalahan bukan pada track lurus dan suara berisik, tapi pada “Pride“. Bukan rahasia, dimana ada balap liar, disanalah geng geng moror berkumpul, dan aku adalah salah saru dari mereka. Perkalhian demi perkelahian adalah sampinganku sebagai “Joki“, tidak akan heran meliharku sebagai pemecut kuda besi ini berkelahi secara brutal, hal ironi yang akhirnya membuatku sulit menjalin relasi di bangku putih biru, bahkan aku yang cukup dikenal guru guruku sebagai orang cerdas tidak mampu mengimbangi yang lain dari segi akademik, membuat putih abuku terlempar ke sekolah yang dipenuhi anak sejenisku

Putra, putra putra putra, hampir setiap malam minggu turun kejalan untuk meramaikan balapan, hingga terkenal dengan si mata kicep, bukan karna aku buta sebelah atau kelainan pada mata, tapi tungganganku yang slalu sebelah matanya. Reputasi yang cukup dikenal dikalangan anak motor membuatku semakin dekat dengan hal yang lebih gelap dari narkoba, bahkan aku kenal dengan salah satu bandar. Hidup luntang lantung tidak jelas, dan karna brutalnya diriku, aku dikeluarkan dari sekolah itu. Ayahku memindahkanku ke sekolah yang lebih baik, menurut pandanganku, sekolah itu hanyalah sekolah sekumpulan anak cupu bermobil dan modis, mereka bahkan tidak tau bagaimana memacu kuda besi 2 silinder yang cukup tenar dikalangan anak muda indonesia, sebuah tempat yang menurutku penghinaan memasukanku ke sekolah ini, ke tempat dimana aku merasa terkekang. Tapi bukan tanpa raport hitam, hasilnya aku membaik disekolah ini, ayahkupun memasukanku ke sekolah balap dan berhasil menjuari beberapa balapan kelas lokal hingga provinsi, sebagai imbalan aku mau menurutinya, lucu memang, syararku masuk ke sekolah itu adalah membiarkanku tetap dengan kuda besiku

Ujian nasional mendekat, Alhamdulillah aku lulus, dan bersiap menghadapi test perguruan tinggi, dengan les yg menurutku cukup nyaman suasanya untuk belajar, tp tetap aku berfikir, ini bukanlah tempatku, aku seharusnya ada di aspal kaku. Satu satunya alasan aku tetap mengikuti ayahku karna aku tertarik dengan seorang perempuan, kerudungnya yang menjulur, dan sikapnya membuatku nyaman, kasta rendahku membuatku tetap jauh dengannya, hal ini terus berlangsung hingga kami terpisahkan jarak

Perempuan yang luar biasa, bahkan demi bangun pagi berangkat les, aku rela tidak keluar malam, perlahan tapi pasti. Aku mulai meninggalkan kuda besiku, bahkan menurunkan tenaga yg dia miliki. Aku berhasil masuk perguruan tinggi ternama, dan lulus dengan nilai yang tidak begitu buruk, aku memang masuk jurusan yg bukan bidangku, sehingga aku pikir wajar aku tidak menyentuh 3,5. Aku dipertemukan kembali dengan perempuan itu, dan akhirnya menikah dengannya setelah berhasil menyicil rumah murah 2 kamar

Awal bahtera :
Tahun 1
diawal pernikahanku, aku sulit mendapatkan penghasilan yang cukup, kondisi fisik istriku juga kurang memadai untuk terus bekerja sepanjang waktu membantuku dalam mencari nafkah, kami berkomitmen untuk menunda memiliki momongan, sungguh baik nasibku, mungkin bayaran dr Allah yang melihatku berhasil meninggalkan kebiasaam buruk untuk berpacu dalam jarak 201m, sebuah anugrah luar biasa, aku menikahi perempuan yang begitu sempurna, dia bahkan tidak mengeluh sedikitpun tentang keuanganku yang cukup tersendat, dia slalu mengingatkanku untuk beribadah, tidak pernah terlewat, bahkan dia tetap melayaniku saat dia sedang tidak menginginkan menerima syahwatku, dan tidak pernah lupa olehku untuk mengecup dahinya dipagi hari
Tahun 2
keuanganku mulai membaik, kami mulai menabung dan mempersiapkan untuk memiliki momongan, tidak ada kebiasaan rutin yang terlewat, bahkan tetangga kami ikut bahagia melihat keharmonisan kami, mengecup dahinya saat terbangun dari tidur dan saat sebelum dia berangkat kerja, komunikasi tetap terjaga, bahkan semakin intim, disaat saat tertentu, dia tidak lupa memberikanku buku buku berharga yang menjadi vitamin untuk ruh ku, perbincangan semakin hangat, keluarga kecil yang harmonis
Tahun 3
keuangan yang terus membaik membuat tabunganku cukup untuk biaya melahirkan istriku, di tahun ini kami berencana untuk memiliki anak pertama, memastikan hubungan kami semakin intim, bahkan istriku sangat bersemangat saat diajak kedokter untuk mengikuti program dari dokter, perdebatan kecil tentang nama bahkan sudah ada sebelum mendapatkan hasil 2 garis, lucu, tertawa bersama saat berdebat gender anak yang diinginkan, keinginanku memiliki jagoan laki laki untuk menemaniku dalam hobiku, dan keinginannya memiliki putri cantik untuk menemaninya saat memasak dan membereskan rumah, kami bahagia, hidup dengan tenang, penuh canda, hingga akhirnha aku mengalah dan sudah mempersiapkan dana untuk mendekorasi ulang rumah kami menjadi lebih feminim, bahkan ada satu kejadian lucu, saat aku pulang kerja, dia langsung melantunkan musik tua dari Maher Zain berjudul “Number One”, lagi ini ditujukan untuk seorang ibu, lalu dia menggodaku “kelak anak kita akan menyanyikan lagu ini untukku, ayahnya payah, main gitar saja gabisa” kami tertawa dengan riang dihari itu
Tahun 4
sudah 1 tahun menanti, tapi istriku belum kunjung hamil, tapi ini tidak mengurangi rasa cintaku padanya, bahkan saat dia merasa mual karna makanan masakanku kurang baik, atau saat melewati jalan yg berliku, dia berkata “aku harus ke kamar mandi, siapa tau hasilnya positif?” candanya sambil menahan mual, dan kamipun tertawa, rutinitas pagi hari slalu ada, mengecupnya, membelainya dengan kasih, memang ditahun ini sudah ada desakan dari keluarga kami untuk segera memiliki momongan, terlebih istriku adalah anak pertama dari 3 saudara, adikku juga ingin menikan tahun ini, adikku slalu menggodaku “jangan sampe ade duluan ya kaaa” kami tertawa, bahkan mertua kami memberikan kami kamar exklusif yang jauh dari mereka dengan alasan tidak ingin mengganggu kemesraan kami, sebenarnya hasil dari dokter menunjukan kami ber2 sehat, tidak ada yang mandul, tapi memang belum diberikan oleh sang maha kuasa, kami tidak merasa tertekan, dan menganggap ini adalah hadiah dr Allah untuk menikmati masa muda kami, bahkan sampai adikku menikah, belum ada tanda bahwa istriku hamil

Pelangi sebelum badai :
Tahun 5
keuangan kami luar biasa baik, dan kami merasa siap lahir batin untuk memiliki anak, kami menjalankan program dengan baik, keluarga kami menunggu cucu pertama mereka dengan antusias, hal itu tidak menjadi tekanan bagi kami, justru membuat kami tertawa dan semakin romantis, kami memutuskan untuk membeli sebuah mobil sendiri, dia menggodaku “masa kalau aku mau melahirkan nanti kamu nganterin aku pake motor? atau mau pinjem mobil sana sini, kan ga lucu” kami tertawa, dan sepakat membeli sebuah mobil sedan yang memiliki nilai history tersendiri untukku, sebuah produk dari jepang, Mazda 323 interplay produksi tahun 1991 berwarna hitam, rumah kamipun sudah terlihat feminim, mempersiapkan kelahiran putri kami, hingga akhir tahun akhirnya Allah memberikan garis 2 pada alat itu, bahagianya kami hingga hingga langsung membeli kereta bayi, tempat tidur bayi, mainan bayi, dan lain sebagainya. dekorasi rumah kami seperti taman bermain untuk bayi, bahkan mertuaku sering menggodaku “besok abah udah punnya cucu sepertinya” bahagianya kami dimasa itu
Tahun 6
kebahagiaan terus terpancar dari wajah kami, tak lupa aku stel musik klasik, kata orang dulu, musik klasik baik untuk janin, bahkan istriku marah ketika aku tidak sengaja menyetel musik lamaku seperti “Let it go” yang di cover oleh band metal Betraying the Martyrs, tidak bosan bosannya aku mengelus perut istriku, padahal di awal tahun itu masih tidak terlalu terlihat dia sedang hamil, playlist kami dipenuhi oleh mozart dan bethoven, perbincangan kami tidak jauh dari perdebatan aku yang ntah kenapa menginginkan kembali anak laki laki, akhirnya dari data USG, istriku menang, kami mendapatkan tuan putri baru, aku tidak kecewa, justru aku tertawa diruangan itu dan tanpa malu berkata “ini untuk kemenanganmu” aku mencium pipi istriku di depan dokter wanita itu, dokter itu terlihat iri dengan kemesraan kami, tak pernah sekalipun aku melepas pengawasan terhadap istriku, sebisa mungkin aku ada disana, bahkan aku melepas pekerjaanku dan beralih menjadi free lancer dan membuka sebuah bengkel dekat tempat tinggal kami, saat istriku yang hamil besar, aku semakin rewel dan menjaga dengan extra istriku, kali ini benar benar slalu kugandeng tangannya, senyum dari kami ber2 slalu hadir, hingga hal yang tidak diinginkan terjadi
aku dibelakang kemudi, di jalan bebas hambatan, aku berjalan pelan mengikuti aturan batas minimum kecepatan, ya mungkin lebih cepat 10km pada speedo mazdaku, dengan alunan musik klasik, kami berjalan santai, dimasa itu, hanya mobilku lah yang tidak bisa berkomunikasi dengan mobil lain, sebuah teknologi luar biasa dari Amerika untuk berkomunikasi satu sama lain dengan tujuan menghindari kecelakaan, tak ada firasat buruk saat itu, mobil mobil listrik terus menyalipku dari sisi kanan, dan terjadilah kejadian itu, kejadiannya sangat cepat, aku tidak terlalu ingat persisnya, mobilku dihantam dari belakang, mobilku pun menghantam pembatas jalan hingga akhirnya kami terpelosok ke jurang, aku tersadar dirumah sakit, tanpa ingat apa yang terjadi, aku langsung berusaha bangun dan mencari istriku, aku ditahan oleh perawat dan mengatakan bahwa tangan kananku patah dan fisikku belum cukup baik untuk bangun, dia mengatakan padaku, aku koma selama 1 minggu, beruntung aku berhasil selamat, karna ternyata ada serpihan kaca yang menyobek leherku dan melukai tenggorokanku, akupun mulai ingat, saat kecelakaan aku langsung memegang tangan istriku, istriku terlihat panik dan mengucapkan 2 kalimat syahadat berulang, saat membentur pembatas jalan mobil kami terpental, dan karna aku kehilangan banyak darah aku pingsan, aku memaksakan diri untuk bangun dan mencari istriku, suster mengatakan istriku selamat dan sekarang sedang dalam pemulihan, aku meminta untuk bertemu istriku tapi tidak diijinkan, aku memaksa dan akhirnya diperbolehkan menemui istriku, aku melihatnya terbaring di kasur putih itu, aku mendekatinya sembari bersyukur dia selamat, aku menangis melihatnya dan berulang kali mengatakan maaf, dia tidak bergeming, aku ketakutan saat itu, terus meminta pertolongan pada yang maha kuasa, esoknya aku dijelaskan oleh dokter yg menangani istriku, dia mengayakan bahwa istriku mengalami trauma mendalam, kecelakaan itu membuat kami kehilangan tuan putri kami, tapi itu bukan bagian terburuk, salah satu ovariumnya ternyata terluka dan mengharuskan untuk diangkat, dan dokter mengatakan padaku, mungkin aku sulit bagi kami untuk memiliki anak, aku mendekati kembali istriku, dan menangis disisinya, mengatakan maaf maaf maaf dan maaf, akhirnya kami diperbolehlan pulang, saat kondisi istriku mulai stabil, aku memberitau keadannya yang sebenarnya, lalu dia berkata “ada baiknya kamu mencari istri yang lain, aku tau kamu sangat menginginkan jagoan untuk menemanimu”
seperti tersambar petir, sudah terkuras air mataku saat aku tau aku hampir membuatnya terbunuh saat aku ada dibelakang kemudi, kini aku menghadapi kalimat yang sangat tajam, inilah pertama kalinya aku tersakiti oleh istriku

-bersambung, artikel ini akan penulis lanjutkan bila ada waktu lagi untuk melanjutkannya

Komparasi dan Analisa Yamaha Jupiter MX 150 (KING) V Suzuki Satria FU 150

Disclaimer : ke2 motor yang dikomparasikan adalah milik dari masing masing asal si ayago/bebek super, saya tidak mengambil keuntungan sedikitpun dari 2 belah pihak, tidak ada juga niat untuk mendiskriminasi atau mengarahkan konsumen pada 1 pilihan, komparasi berdasarkan kesamaan segmen dan harga pada masing masing produk

Maret 2015 adalah tanggal dimana Suzuki Satria FU mendapatkan “Saingan” dalam kelas 150cc bebek mesin berdiri, setelah 10 tahun melenggang sendirian, si ayago ini slalu dibandingkan performanya dengan yang berbeda segmen
tapi BULAN MARET 2015 ini, Yamaha Indonesia memberikan lawan yang berada di KOLAM HAMPIR sama dengan reborn FXR 150
berikut analisa saya

data diambil dari website resmi masing masing produk, apabila ada protes karna tidam validnya data, dimohon untuk protes ke costumer care 2 pabrikan tersebut, bukan ke saya

langsung to the point
ini screen shot yg diambil dari web site resmi Suzuki Indonesia berkenaan spesifikasi Satria FU 150

image

dan ini spesifikasi Jupiter MX 150 diambil dari website resmi Yamaha indonesia

image

Komparasi I
Dimensi : SFU 150 V MX 150
panjang 1940mm V 1970mm
lebar 652mm V 670mm
ketinggian terendah dari tanah 140mm V 135mm
seat high 764mm V 780mm
berat kosong : 95kg V 116kg
Ulasan 1
dari segi dimensi memang terlihat si pendatang baru memiliki ukuran secara overall maupun head to head lebih besar dari si pendahulu
untuk panjang dan lebar MX memiliki kelebihan 30mm dan 28mm, cukup jauh yaitu sekitar 3cm dari SFU
jarak terendah dengan tanahpun sama, MX lebih rendah 0,5cm dari tanah dibanding SFU, sedangkan posisi duduk MX lebih tinggi 1,6cm
dari outlook saja sudah bisa memastikan MX lebih berat, dan benar saja, berat kosong MX lebih berat 21kg (cukup jauh), tp dari website tidak diberitau apa itu berat kosong atau sudah terisi bensin, biasanya sih kosong
sudah jelas, dalam penempatan saat parkir atau di jalan raya yg mumet, MX lebih ribet dibanding SFU, bagi saya yg TB/BB nya 176cm/55kg sih mungkin ga masalah, berhubung saya sendiri sudah terbiasa bawa motor yg berbobot kosong antara 124,5kg-146kg, tapi mungkin bagi mereka yg memiliki porsi tubuh lebih mungil dan kerempeng, agak kasian juga kayaknya kalo belum terbiasa, he he
tapi dimensi dan berat MX mungkin akan lebih berguna saat berada di jalan lingkar luar atau antar kota yang biasanya luas dan anginnya cukup kencang, dari bentuk dan bobot saya menilai MX akan lebih nikmat dibawa jauh dibanding SFU terlepas dari riding position, SFU mungki lebih cocok di jalan agak macet atau di sircuit yg tertutup dikarnakan bobot dan bentuknya yg lebih mungil dari pesaing barunya

Tidak Validnya Ulasan 1:
1. dari beberapa sumber, bahkan dari brosur yg saya download sendiri dari websire suzuki, berat kosongnya adalah 107kg, saya tidak tau mana yang valid karna belum pernah nimbang
2. bila para barang yg dikomparasikan sudah berbeda dengan spesifikasi pabrik, semisalganti arm, ganti velg, ganti ban, dll

komparasi II :
Rangka : SFU 150 V MX 150
jenis rangka N.a V backbone
suspensi depan = teleskopik (ukuran tidak ada data)
suspensi belakang = lengan ayun (jenis dan ukuran tidak ada data)
rem depan dan belakang  = cakram (jenis dan ukuran tidak ada data)
ban depan 70/90 38S V 70/90 MC 38P
ban belakang 70/90 38 S V 120/70 MC 38P
ulasan II :
sangat disayangkan tidak ada data tentang jenis rangka yang menopang SFU dari website resminya, karna dari bemtuk rangka biasanya akan terbayang rasa rasanya bawa motor ini, baik di jalan lurus maupun saat cornering, jadi mungkin komparasi Feel yg berfaktor dr rangka ditunda
dan data lain seperti suspensi, arm yg digunakan dan jenis rem juga tidak ada data, jadi tidak bisa membandingkan rasanya lebib kinyis mana ngerem pake SFU atau MX
yang jelas disini adalah pada ban bawaan pabrik (biasanya cuma bertahan 1-3 tahun)
untuk ban depan satria jelas unggul, meskipun dengan lebar dan tinggi yang sama, tapi kode kecepatan maximumnya adalah S, yaitu 180kpj, artinya ban ini aman digunakan dengan kecepatan 180kpj selama 1 jam dengan bobot maximal kode 38 yang, yaitu 132kg, sementara MX hanya mencapai 150kpj (kode P) dan bobot pada ban adalah 132kg
sementara di ban belakang MX saya rasa lebih unggul, dengan tapak yang lebih lebar dan tinggi, bisa dibayangkan, ban belakang MX jauh lebih kekar dari satria FU, memang limit kec maximumnya SFU lebih tinggi dari MX, masih sama seperti ban depan, kisaran 30kpj, tapi melihat spek mesin dan kondisi jalan di indonesia, saya rasa mantengin kecepatan 120kpj selama 1 jam agak sulit, he he, keunggulan jelas ada pada kode beban maximum ban, yaitu 180kg, ditunjukan dengan kode 58
sayangnya tidak diketahui, apakah ban SFU soft atau medium compound
dari data diatas sudah menjelaskan kenapa di awal saya mengatakan di kolam yang hampir sama, bukan di kolam yang sama, perbedaan bobot maximum pada ban belakang antara MX dan SFU cukup jauh, hampir menyentuh angka 50kg, sementara dr data dimensi MX hanya lebih berat 21kg, artinya masih ada simpanan 27kg
bila saya yang mengendarai
bobot satria 100kg dengan bensin dan saya 55kg
maka jelas bila saya bawa di kecepatan tinggi terus menerus, motor akan terasa lebih bouncing dibanding saya membawa MX 120kg dengan bensin di kecepatan yang sama, ulasan ini tidak bertentangan dengan ulasan 1
tapi ini bukan berarti MX lebih unggul, masa iya saya bawa motor dengan kecepatan 150kpj dalam 1jam secara konstan, 120 aja udah merinding, apa lagi di jalan indonesia
dari 2 ulasan sudah menjelaskan memang MX dan SFU berbeda kegunaan
SFU sendiri lebih ke arah kemacetannya indonesia, atau sekalian mau di sircuit melirik dr kode ban yg sudah ajip, sementara MX sendiri lebih diperuntukan membawa beban yg lebih berat dr SFU dan lebih nyaman dibanding SFU bila ingin dibawa keluar kota

Tidak Validnya Ulasan II :
berhubung tidak ada data lain selain data ban yang cukup jelas, maka ada banyak faktor yg membuat ulasan tidak valid, apalagi kalau konsumen sudah mengganti ban dengan kode berbeda dari std pabrik

mari beralih ke sektor PANAS
KOMPARASI III :
SEKTOR MESIN!!!
ya inilah yang biasanya menjadi perbincangan hangat dan menjadi sorotan publik, tidak heran baik dari iklan media cetak, visual dan audio, sektor ini yang paling ditegaskan oleh para produsen motor
mari dibahas dengan adem
SUZUKI SATRIA FU V YAMAHA JUPITER MX 150
Cylinder Head : DOHC 4 Valve V SOHC 4 Valve
Cylinser Block : piston 62mm V piston 57mm
Crankcase : 6 speed, 48,8mm crankshaft V 5 speed, 58,7mm crankshaft
Pengapian : CDI V ECU
Suply bahan bakar : Karburator V Injection
Tenaga yang dihasilkan : 16 tenaga kuda pada rpm 9,000 V 15,4 tenaga kuda pada rpm 8,500
Torsi yang dihasilkan : 124 Nm PADA RPM 8,500 V 13,8 Nm pada rpm 7,000
Kubikasi : 147,3 cc V 149,8 cc
ULASAN III :
bila dari ulasan I sedikit perbedaan antara SFU dan MX
lanjut ke ulasan II pun masih cukup sedikit perbedaan karakter SFU dan MX
kali ini di ulasan III hampir semuanya berbeda, persamaan ke2 motor hanya pada jumlah klep yang digunakan
untuk pembahasan DOHC dan SOHC akan saya skip, kalau dibahas akan sangat panjang, ada baiknya pembaca langsung buka blog/website yang membahasnya secara detil, secara singkat memang DOHC diperuntukan untuk mempermudah jalur masuk bahan bakar maupun udara baik masuk maupun keluar ruang pembakaran, tapi tidak bisa langsung menjudge DOHC lebih baik dari SOHC, karna pada realnya, tenaga pada mesin tidak hanya dihasilkan dari 2 faktor tersebut
bentuk mesin
bila digambarkan secara sederhana, maka bentuk mesin SFU lebih “Bantet” dibandingkan MX, dengan diameter silinder 62mm, dan MX hanya 57mm, perbedaan diameternya sekitar 5mm atau sekitar 1/2cm
sementara untuk tinggi silinder, SFU hanya 48,8mm, lebih pendek 9,9mm dari MX, hampir 1cm beda tinggi silindernya
apabila dianggap v piston maximum sama, maka jelas SFU mampu menyentuh limiter rpm lebih jauh dari pada MX, jelas terlihat pada peak power SFU berada di rpm 9,000 sementara MX hanya ada di rpm 8,500
perbedaan panjang kruk as juga berdampak pada torsi, HANYA SAJA dalam data dari website resmi suzuki ada keganjilan, yaitu besar TORSI yang dihasilkan yaitu 124 Nm, asumsi saya, suzuki salah memberi koma pada data di website, atau salah menggunakan ukuran, bila salah menggunakan ukuran, maka torsi maximum adalah 12,7 Nm, bila salah penempatan koma, maka torsi maximum 12,4 Nm, memang secara fisika bukan tidak mungkin SFU mendapatkan torsi 124 Nm pada rpm 8,500, torsi sendiri dipengaruhi oleh I (moment inersia)
I = konstanta x massa x jari jari kuadrat
dari jari jari kruk as sudah jelas unggul MX, mungkin suzuki punya senjata rahasia seperti batu akik? he he, JK (just kidding)
yang jelas dibutuhkan massa dan bentuk yang luar biasa untuk mendapatkan torsi 124 Nm pada putatan mesin 8,500 dengan jari jari kruk as hanya 24,4mm
berhubung saya sudah pernah memegang kruk asnya SFU, saya asumsikan website yang salah memberikan informasi
torsi maximum MX didapatkan di putaran mesin yang lebih rendah, dan MX juga memiliki torsi yang lebih tinggi dari SFU
torsi sendiri seperti tenaga yang digunakan untuk menggerakan benda tersebut
artinya semakin besar torsi, maka semakin mudah benda tersebut bergerak
dari sisi ini maka MX terkesan lebih LIAR dari satria FU, tidak dibutuhkan plintiran gas yang besar untuk merasakan tenaga yang diinginkan dibandingkan feelnya saat membawa satria FU, buka sitik wes langsung josshh
dalam teack lurus jalan datar mungkin tidak akan terlalu terasa, tapi beda cerita kalau udah naik turun belak belok kayak di gunung kidul / sumedang – nangor, dari spek mesin MX lebih superior dibandingkan SFU, bagaimana dengan konsumsi BBM? katanya makin gede tenaga makin boros? belum tentu
MX sudah injection, dibandingkan SFU yang masih karbu, seharusnya MX bisa lebih efisien dalam penyemprotan bahan bakar, disokong dengan torsi yang besar, artinya tangan kanan gausah mlintir jauh jauh, jika style riding disamakan, ada kemungkinan MX lebih irit dibanding SFU, perkiraan dari saya sendiri cukup jauh, MX bisa berjalan lebih jauh dari SFU sejauh 10km dibandingkan SFU dengan bensin 1 liter, bahkan mungkin lebih, estimasi saya
SFU perlu 1 liter untuk berjalan sejauh 35-40km
MX perlu 1 liter untuk berjalan 45-50km
jadi apa mesin MX lebih unggul? eits belum tentu
masih ada ratio yang belum dibahas
SFU memiliki 6 gear sementara MX hanya 5, jelas dalam performa SFU lebih merata dalam penyaluran tenaga dibanding MX, ini menutup kekurangannya sebagai mesin overbore, didukung dengan limit rpm yang tinggi, pemerataan tenaga di setiap gear akan sangat membantu dalam performa
final conclusion??
2 mesin ini sama sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing
memang dalam tenaga maximum MX dan SFU hampir sama, tapi dilihat dari bobot kosong, maka jelas power to weight SFU unggul (meskipun dengan data 107kg), dalam gearpun sama, ada kemungkinan dalam track lurus panjang dan datar, performa SFU akan mengungguli MX, tapi cerita akan berbeda bila 2 motor ini diajak naik turun gunung belok belok, meskipun MX bannya agak jomplang tapi bila rider sudah fit dengan keadaan tersebut, justru keadaan tersebut bisa dimanfaatkan saat menikung (pengalaman pribadi, motor saya soalnya ring depan 17 inc, belakang 18 inch) memang akan lebih berat, tp kalo udah biasanya ya nikmat sendiri, berasanya bener bener mantep napak tanah pada ban belakang
perkiraan pada drag test
200m
1. MX
2. SFU
300m
1. SFU
2. MX

so? which “ayago” will be the best “ayago”?
2 2nya terbaik, tergantung tujuan membeli motor

hasil komparasi secara umum :
2 motor ini hanya berada di segmen yang hampir sama, bukan sama, jelas 2 motor ini dibuat untuk peruntukan yang berbeda
SFU sendiri mungkin akan lebih cocok untuk orang yg bertubuh mungil, dengan bobot ringan akan lebih mudah dikendalikan terutama dijalan sempit dan macet, memang agak kurang nyaman menggunakan mesin overbore untuk stop and go, akan lebih kurang nyaman saat boncengan atau bawa beban berat, mesin akan lebih sering meraung meminta rpm ditinggikan, tapi dilirik dr maintenancenya, saya sendiri prefer merawat motor karbu, bisa seting karbu sendiri, bisa bersihin karbu sendiri, ga ada water coolant juga SFU ini, jadi gausah mikirin air di radiator kurang apa engga, untuk anak anak SMA atau yang agak males ngerawat motor kayak saya cocok, he he
MX mungkin lebih cocok untuk orang yg seneng jalan jauh tapi santai dan gamau pake motor batangan, dengan kapasitas tangki 4,2 liter bila perhitungan saya benar, maka full tank MX cukup untuk saya gunakan pulang pergi tembalang-yogyakarta, atau kalau mau aman ya isilah sekali pas di yogya, perawatan ya lebih detil, harus ngecek apakah air radiator kurang atau tidak, ECU sendiri memiliki beberapa tanda bila ada kerusakan, dan saya agak males ngapalin kedipan kedipan menggoda di panel speedo, service juga gabisa sendiri, bawa ke Beres atau bengkel lain yang sudah bisa service motor FI, berhubung saya anak kost yang pemalas, motor ini kurang cocok dengan manusia seperti saya yang doyan “Ngulet” di kasur

sekian analisa dari saya, semoga tidak menyakiti pihak siapapun, tujuan utama tulisan ini adalah membantu saya saat ada orang menanyakan mau beli MX atau SFU di FR2 kaskus, jadi tinggal tak copast, he he

bila ada kesalahan mohon dimaklumi
bila anda senang dengan tulisan saya, beritau orang lain, bila anda kecewa, beritau saya