istri yang setia

catatan : penulis tidak mengambil dari sebuah kisah nyata. melainkan dari oengalaman pribadi, beberapa rekan penulis, ditambahkan khayalan khayalan penulis, bila ada kesamaan dan atau kemiripan nama, tempar, kejadian, sepenuhnya bukan disengaja okeh penulis, tujuan dari cerita pendek ini murni untuk renungan, bila ada kekurangan silahkan hubungi penulis, trimakasih

Intro :
Namaku putra, berasal dari keluarga yang entah bahagia atau tidak, dari segi ekonomi, keluargaku tidak kekurangan, bahkan bisa dibilang berkelebihan, dari segi agama, aku juga tidak merasa kekurangan asupan religi dari keluargaku. Aku memiliki seorang adik laki laki, berbeda 3,5 tahun, tidak cukup jauh, ya selayaknya saudara laki laki, ada kalanya kami bertengkar dan tertawa bersama. Terdengar seperti keluarga yang norma, tapi tidak ada sesuatu yang berjalan sempurna

Aku menemukan sesuatu yg terus membuatku berfikir aku adalah aib. Terkadang hal ini memnjadikan relasiku dengan keluargaku sendiri memburuk. Tertekan dan berfikiran negative membuatku terjerumus pada dunia malam di kota luar biasa ini, dimasa umurku yang masih belasan, aku sudah turun kejalan, mengenal liarnya roda malam berputar rangka bermesin, iya, balap liar

Dunia mesin bukanlah hal asing bagiku, melihat ayahku yang memiki mobil tua bermesin 600 tenaga kuda membuatku semakin asik dengan roda 2ku, tapi permasalahan bukan pada track lurus dan suara berisik, tapi pada “Pride“. Bukan rahasia, dimana ada balap liar, disanalah geng geng moror berkumpul, dan aku adalah salah saru dari mereka. Perkalhian demi perkelahian adalah sampinganku sebagai “Joki“, tidak akan heran meliharku sebagai pemecut kuda besi ini berkelahi secara brutal, hal ironi yang akhirnya membuatku sulit menjalin relasi di bangku putih biru, bahkan aku yang cukup dikenal guru guruku sebagai orang cerdas tidak mampu mengimbangi yang lain dari segi akademik, membuat putih abuku terlempar ke sekolah yang dipenuhi anak sejenisku

Putra, putra putra putra, hampir setiap malam minggu turun kejalan untuk meramaikan balapan, hingga terkenal dengan si mata kicep, bukan karna aku buta sebelah atau kelainan pada mata, tapi tungganganku yang slalu sebelah matanya. Reputasi yang cukup dikenal dikalangan anak motor membuatku semakin dekat dengan hal yang lebih gelap dari narkoba, bahkan aku kenal dengan salah satu bandar. Hidup luntang lantung tidak jelas, dan karna brutalnya diriku, aku dikeluarkan dari sekolah itu. Ayahku memindahkanku ke sekolah yang lebih baik, menurut pandanganku, sekolah itu hanyalah sekolah sekumpulan anak cupu bermobil dan modis, mereka bahkan tidak tau bagaimana memacu kuda besi 2 silinder yang cukup tenar dikalangan anak muda indonesia, sebuah tempat yang menurutku penghinaan memasukanku ke sekolah ini, ke tempat dimana aku merasa terkekang. Tapi bukan tanpa raport hitam, hasilnya aku membaik disekolah ini, ayahkupun memasukanku ke sekolah balap dan berhasil menjuari beberapa balapan kelas lokal hingga provinsi, sebagai imbalan aku mau menurutinya, lucu memang, syararku masuk ke sekolah itu adalah membiarkanku tetap dengan kuda besiku

Ujian nasional mendekat, Alhamdulillah aku lulus, dan bersiap menghadapi test perguruan tinggi, dengan les yg menurutku cukup nyaman suasanya untuk belajar, tp tetap aku berfikir, ini bukanlah tempatku, aku seharusnya ada di aspal kaku. Satu satunya alasan aku tetap mengikuti ayahku karna aku tertarik dengan seorang perempuan, kerudungnya yang menjulur, dan sikapnya membuatku nyaman, kasta rendahku membuatku tetap jauh dengannya, hal ini terus berlangsung hingga kami terpisahkan jarak

Perempuan yang luar biasa, bahkan demi bangun pagi berangkat les, aku rela tidak keluar malam, perlahan tapi pasti. Aku mulai meninggalkan kuda besiku, bahkan menurunkan tenaga yg dia miliki. Aku berhasil masuk perguruan tinggi ternama, dan lulus dengan nilai yang tidak begitu buruk, aku memang masuk jurusan yg bukan bidangku, sehingga aku pikir wajar aku tidak menyentuh 3,5. Aku dipertemukan kembali dengan perempuan itu, dan akhirnya menikah dengannya setelah berhasil menyicil rumah murah 2 kamar

Awal bahtera :
Tahun 1
diawal pernikahanku, aku sulit mendapatkan penghasilan yang cukup, kondisi fisik istriku juga kurang memadai untuk terus bekerja sepanjang waktu membantuku dalam mencari nafkah, kami berkomitmen untuk menunda memiliki momongan, sungguh baik nasibku, mungkin bayaran dr Allah yang melihatku berhasil meninggalkan kebiasaam buruk untuk berpacu dalam jarak 201m, sebuah anugrah luar biasa, aku menikahi perempuan yang begitu sempurna, dia bahkan tidak mengeluh sedikitpun tentang keuanganku yang cukup tersendat, dia slalu mengingatkanku untuk beribadah, tidak pernah terlewat, bahkan dia tetap melayaniku saat dia sedang tidak menginginkan menerima syahwatku, dan tidak pernah lupa olehku untuk mengecup dahinya dipagi hari
Tahun 2
keuanganku mulai membaik, kami mulai menabung dan mempersiapkan untuk memiliki momongan, tidak ada kebiasaan rutin yang terlewat, bahkan tetangga kami ikut bahagia melihat keharmonisan kami, mengecup dahinya saat terbangun dari tidur dan saat sebelum dia berangkat kerja, komunikasi tetap terjaga, bahkan semakin intim, disaat saat tertentu, dia tidak lupa memberikanku buku buku berharga yang menjadi vitamin untuk ruh ku, perbincangan semakin hangat, keluarga kecil yang harmonis
Tahun 3
keuangan yang terus membaik membuat tabunganku cukup untuk biaya melahirkan istriku, di tahun ini kami berencana untuk memiliki anak pertama, memastikan hubungan kami semakin intim, bahkan istriku sangat bersemangat saat diajak kedokter untuk mengikuti program dari dokter, perdebatan kecil tentang nama bahkan sudah ada sebelum mendapatkan hasil 2 garis, lucu, tertawa bersama saat berdebat gender anak yang diinginkan, keinginanku memiliki jagoan laki laki untuk menemaniku dalam hobiku, dan keinginannya memiliki putri cantik untuk menemaninya saat memasak dan membereskan rumah, kami bahagia, hidup dengan tenang, penuh canda, hingga akhirnha aku mengalah dan sudah mempersiapkan dana untuk mendekorasi ulang rumah kami menjadi lebih feminim, bahkan ada satu kejadian lucu, saat aku pulang kerja, dia langsung melantunkan musik tua dari Maher Zain berjudul “Number One”, lagi ini ditujukan untuk seorang ibu, lalu dia menggodaku “kelak anak kita akan menyanyikan lagu ini untukku, ayahnya payah, main gitar saja gabisa” kami tertawa dengan riang dihari itu
Tahun 4
sudah 1 tahun menanti, tapi istriku belum kunjung hamil, tapi ini tidak mengurangi rasa cintaku padanya, bahkan saat dia merasa mual karna makanan masakanku kurang baik, atau saat melewati jalan yg berliku, dia berkata “aku harus ke kamar mandi, siapa tau hasilnya positif?” candanya sambil menahan mual, dan kamipun tertawa, rutinitas pagi hari slalu ada, mengecupnya, membelainya dengan kasih, memang ditahun ini sudah ada desakan dari keluarga kami untuk segera memiliki momongan, terlebih istriku adalah anak pertama dari 3 saudara, adikku juga ingin menikan tahun ini, adikku slalu menggodaku “jangan sampe ade duluan ya kaaa” kami tertawa, bahkan mertua kami memberikan kami kamar exklusif yang jauh dari mereka dengan alasan tidak ingin mengganggu kemesraan kami, sebenarnya hasil dari dokter menunjukan kami ber2 sehat, tidak ada yang mandul, tapi memang belum diberikan oleh sang maha kuasa, kami tidak merasa tertekan, dan menganggap ini adalah hadiah dr Allah untuk menikmati masa muda kami, bahkan sampai adikku menikah, belum ada tanda bahwa istriku hamil

Pelangi sebelum badai :
Tahun 5
keuangan kami luar biasa baik, dan kami merasa siap lahir batin untuk memiliki anak, kami menjalankan program dengan baik, keluarga kami menunggu cucu pertama mereka dengan antusias, hal itu tidak menjadi tekanan bagi kami, justru membuat kami tertawa dan semakin romantis, kami memutuskan untuk membeli sebuah mobil sendiri, dia menggodaku “masa kalau aku mau melahirkan nanti kamu nganterin aku pake motor? atau mau pinjem mobil sana sini, kan ga lucu” kami tertawa, dan sepakat membeli sebuah mobil sedan yang memiliki nilai history tersendiri untukku, sebuah produk dari jepang, Mazda 323 interplay produksi tahun 1991 berwarna hitam, rumah kamipun sudah terlihat feminim, mempersiapkan kelahiran putri kami, hingga akhir tahun akhirnya Allah memberikan garis 2 pada alat itu, bahagianya kami hingga hingga langsung membeli kereta bayi, tempat tidur bayi, mainan bayi, dan lain sebagainya. dekorasi rumah kami seperti taman bermain untuk bayi, bahkan mertuaku sering menggodaku “besok abah udah punnya cucu sepertinya” bahagianya kami dimasa itu
Tahun 6
kebahagiaan terus terpancar dari wajah kami, tak lupa aku stel musik klasik, kata orang dulu, musik klasik baik untuk janin, bahkan istriku marah ketika aku tidak sengaja menyetel musik lamaku seperti “Let it go” yang di cover oleh band metal Betraying the Martyrs, tidak bosan bosannya aku mengelus perut istriku, padahal di awal tahun itu masih tidak terlalu terlihat dia sedang hamil, playlist kami dipenuhi oleh mozart dan bethoven, perbincangan kami tidak jauh dari perdebatan aku yang ntah kenapa menginginkan kembali anak laki laki, akhirnya dari data USG, istriku menang, kami mendapatkan tuan putri baru, aku tidak kecewa, justru aku tertawa diruangan itu dan tanpa malu berkata “ini untuk kemenanganmu” aku mencium pipi istriku di depan dokter wanita itu, dokter itu terlihat iri dengan kemesraan kami, tak pernah sekalipun aku melepas pengawasan terhadap istriku, sebisa mungkin aku ada disana, bahkan aku melepas pekerjaanku dan beralih menjadi free lancer dan membuka sebuah bengkel dekat tempat tinggal kami, saat istriku yang hamil besar, aku semakin rewel dan menjaga dengan extra istriku, kali ini benar benar slalu kugandeng tangannya, senyum dari kami ber2 slalu hadir, hingga hal yang tidak diinginkan terjadi
aku dibelakang kemudi, di jalan bebas hambatan, aku berjalan pelan mengikuti aturan batas minimum kecepatan, ya mungkin lebih cepat 10km pada speedo mazdaku, dengan alunan musik klasik, kami berjalan santai, dimasa itu, hanya mobilku lah yang tidak bisa berkomunikasi dengan mobil lain, sebuah teknologi luar biasa dari Amerika untuk berkomunikasi satu sama lain dengan tujuan menghindari kecelakaan, tak ada firasat buruk saat itu, mobil mobil listrik terus menyalipku dari sisi kanan, dan terjadilah kejadian itu, kejadiannya sangat cepat, aku tidak terlalu ingat persisnya, mobilku dihantam dari belakang, mobilku pun menghantam pembatas jalan hingga akhirnya kami terpelosok ke jurang, aku tersadar dirumah sakit, tanpa ingat apa yang terjadi, aku langsung berusaha bangun dan mencari istriku, aku ditahan oleh perawat dan mengatakan bahwa tangan kananku patah dan fisikku belum cukup baik untuk bangun, dia mengatakan padaku, aku koma selama 1 minggu, beruntung aku berhasil selamat, karna ternyata ada serpihan kaca yang menyobek leherku dan melukai tenggorokanku, akupun mulai ingat, saat kecelakaan aku langsung memegang tangan istriku, istriku terlihat panik dan mengucapkan 2 kalimat syahadat berulang, saat membentur pembatas jalan mobil kami terpental, dan karna aku kehilangan banyak darah aku pingsan, aku memaksakan diri untuk bangun dan mencari istriku, suster mengatakan istriku selamat dan sekarang sedang dalam pemulihan, aku meminta untuk bertemu istriku tapi tidak diijinkan, aku memaksa dan akhirnya diperbolehkan menemui istriku, aku melihatnya terbaring di kasur putih itu, aku mendekatinya sembari bersyukur dia selamat, aku menangis melihatnya dan berulang kali mengatakan maaf, dia tidak bergeming, aku ketakutan saat itu, terus meminta pertolongan pada yang maha kuasa, esoknya aku dijelaskan oleh dokter yg menangani istriku, dia mengayakan bahwa istriku mengalami trauma mendalam, kecelakaan itu membuat kami kehilangan tuan putri kami, tapi itu bukan bagian terburuk, salah satu ovariumnya ternyata terluka dan mengharuskan untuk diangkat, dan dokter mengatakan padaku, mungkin aku sulit bagi kami untuk memiliki anak, aku mendekati kembali istriku, dan menangis disisinya, mengatakan maaf maaf maaf dan maaf, akhirnya kami diperbolehlan pulang, saat kondisi istriku mulai stabil, aku memberitau keadannya yang sebenarnya, lalu dia berkata “ada baiknya kamu mencari istri yang lain, aku tau kamu sangat menginginkan jagoan untuk menemanimu”
seperti tersambar petir, sudah terkuras air mataku saat aku tau aku hampir membuatnya terbunuh saat aku ada dibelakang kemudi, kini aku menghadapi kalimat yang sangat tajam, inilah pertama kalinya aku tersakiti oleh istriku

-bersambung, artikel ini akan penulis lanjutkan bila ada waktu lagi untuk melanjutkannya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s